Being an MD,  Life story,  Post in Indonesian,  Thoughts

It’s Okay Not To Be Okay

English version please click here.

Karena ternyata banyak yang merespons post terakhir saya tentang kesehatan mental beberapa hari lalu, saya jadi pengen berbagi tentang pengalaman bagaimana akhirnya saya memutuskan untuk menjalani psikoterapi dengan seorang psikolog di Jerman. Karena postingan ini akan panjang, saya akan bagi ke dalam beberapa bagian:

  • Apa sebenarnya definisi „burn out“ dan pengalaman pribadi saya mengalami „burn out“.
  • Bagaimana prosedur terbaik untuk mendapatkan terapi yang tepat, khususnya untuk teman – teman di negara Jerman.
  • Prosedur pendukung di tempat kerja pasca psikoterapi: rekomendasi saya terkait dengan profesi saya sebagai dokter kesehatan tenaga kerja.

Keinginan untuk menulis tentang hal ini sebenarnya sudah terpendam lama, karena banyak teman atau kenalan sesama Indonesia yang juga tinggal atau studi di Jerman yang bertanya tentang pengalaman saya ini. So let’s get to it!

Apa sebenarnya definisi burn out?

Saya gak akan menjelaskan panjang lebar di sini apa artinya burn out. Kenapa?

  • Karena sampai saat ini bahkan di dunia medis belum ada definisi yang jelas tentang „burn out“. Berbeda dengan misalnya kondisi „acute depressive episode“ atau „schizophrenia“ yang sudah jelas ada definisinya dan sudah merupakan diagnosis di dalam dunia medis terutama kesehatan mental.
  • Kedua karena saya bukan psikiater atau psikolog.

Very simply said, „burn out“ adalah sebuah proses di mana seseorang terus-terusan bekerja di bawah tekanan (stress) sehingga dia menjadi kelelahan. Tekanan ini bisa berbentuk beban pekerjaan, beban personal atau beban lain seperti misalnya mengurus anggota keluarga yang sakit.

Ada tiga gejala yang bisa menandakan proses „burn out“:

  • Exhaustion (kelelahan): di mana seseorang merasakan lelah fisik dan psikis dan energinya terkuras habis. Energi yang habis seakan – akan gak bisa/susah diisi ulang. Gejala fisik yang muncul misalnya sakit/ketidaknyamanan di perut, sakit lambung/maag, infeksi berulang atau terus menerus.
  • Alienation from (work – related) activities: kondisi di mana seseorang awalnya menyukai pekerjaannya, tapi lama – lama merasakan pekerjaan tersebut sebagai beban berat yang gak ada habisnya. Akibatnya orang tersebut mengerjakan pekerjaannya tanpa motivasi apa pun, seperti robot atau mesin yang terprogram. Akhirnya dia jadi orang yang sinis / dingin di lingkungan kerjanya.
  • Reduced performance: seseorang yang mengalami burn out akan mengalami kesulitan di pekerjaan, di rumah dan juga di lingkungan sosialnya. Dia menjadi seseorang yang pesimis dan negatif, susah berkonsentrasi, mempunyai pikiran yang bercabang dan juga kurang kreativitas.

Mendiagnosis seseorang dengan „burn out“ kadang sangat susah, terutama jika awal – awal „burn out“ ditandai oleh penyakit – penyakit fisik. Gejala yang ditunjukkan sangat bervariasi. Untuk menghindari misdiagnosis, sebaiknya memang yang dilakukan adalah pemeriksaan fisik total oleh dokter.

Sebelum saya membahas point tentang prosedur terapi pada kondisi “burn out” saya akan cerita dulu pengalaman pribadi saya ketika mengalami „burn out“. Kondisi ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu.

Tahun 2015 – 2016 adalah tahun yang cukup melelahkan untuk saya. Di kedua tahun itu saya dan suami banyak mengalami tantangan di dalam hal karier yang mengharuskan kami untuk pindah dari kota kesayangan saya Hannover (di lower Saxony, Jerman utara) ke kota Erlangen (sebuah kota Universitas di daerah Bavaria, Jerman selatan).  Dulunya saya ini seseorang yang cukup ambisius dan perfeksionis. Kewajiban dan tanggung jawab yang besar sebagai residen penyakit dalam disambi scientist memang sudah jadi beban yang lumayan berat dari awal saya bekerja di tahun 2012. Situasi kerja yang mengharuskan dokter – dokter muda banyak bekerja sendiri dari awal pendidikan sebenernya bukan sesuatu yang baru lagi di Jerman. Kondisi ini juga udah saya kenal sejak masa akhir pendidikan (karena kami melakukan internship wajib selama setahun di akhir kuliah). Walaupun berat, saya masih merasa nyaman bekerja di fakultas kedokteran Hannover karena saya sudah mengenal bagian itu (Nephrology) dari tahun ketiga kuliah kedokteran, sejak saya paralel memulai program Doktor. Di bagian itu saya sudah merasa at home.

Kepindahan kami ke Erlangen jadi sesuatu yang cukup berat, karena saya harus meninggalkan FK Hannover dan kota Hannover yang sudah menjadi rumah saya selama 11 tahun terakhir. Suasana kerja di rumah sakit Jerman yang serba sendiri dan lumayan berat ini membuat proses kepindahan saya ke universitas baru di Erlangen lebih susah. Ditambah kesulitan saya untuk beradaptasi dengan beban jaga malam dan kurang tidur. Saya memang sudah mengalami masalah susah tidur sejak awal residensi di bagian penyakit dalam. Masalah ini makin parah makin lama saya bekerja di rumah sakit. Kekurangan tidur yang terus – menerus ditambah beban pekerjaan yang rasanya semakin berat di tempat baru membuat saya semakin lelah.

Masalah ini akhirnya memaksa saya untuk banting setir. Saya mutusin untuk melanjutkan residensi di bagian lain. Pendek cerita saya akhirnya memilih untuk melanjutkan program residensi saya di bagian kesehatan tenaga kerja (Arbeitsmedizin).

Perubahan ini ternyata gak menyelesaikan masalah saya seratus persen. Pada dasarnya saya sangat suka pekerjaan di rumah sakit di mana saya dapat berhubungan langsung dengan pasien, mendiagnosis penyakit dan membuat rencana terapi. Pekerjaan di bidang kesehatan tenaga kerja berbeda banget dengan pekerjaan saya sebelumnya di rumah sakit. Di satu sisi saya senang karena di bagian baru ini saya gak lagi harus mengerjakan jaga malam dan jaga weekend yang biasanya super exhausting. Tapi di sisi lain, pekerjaan di bidang kesehatan tenaga kerja mengharuskan saya untuk travelling dan banyak nyetir mobil. Saya diharuskan untuk menangani banyak perusahaan di seluruh bagian Jerman selatan. Masalah kekurangan dokter di Jerman bukan semata di rumah sakit, tapi juga di seluruh divisi kedokteran termasuk di bagian kesehatan tenaga kerja. Kerja lembur udah jadi sesuatu yang biasa.

Perubahan job desk yang drastis, pekerjaan dan tanggung jawab yang sangat banyak (karena kekurangan dokter), ditambah kelelahan fisik karena terlalu banyak dinas keluar kota menjadi faktor -faktor pencetus „burn out“ yang saya alami. Ditambah faktor – faktor lain di luar pekerjaan, akhirnya saya „melambaikan bendera putih“ menjelang akhir tahun 2016.. 

Ketika segala pencetus bersatu, tubuh saya menyerah dan saya diserang penyakit – penyakit yang belum pernah saya alami sebelumnya. Dimulai di pertengahan tahun 2016, tiba – tiba saya mengalami iritasi lambung yang cukup parah (chronische Gastritis), radang paru – paru (Pneumonie), Herpes zoster dan Impetigo contagiosa (infeksi penyakit kulit yang biasanya dialami anak – anak kecil). Karena infeksi terus – menerus itu saya diharuskan untuk cuti sakit selama 3 minggu. 

Di samping penyakit – penyakit fisik saya juga banyak mengalami ketidaknyamanan lain seperti:

  • Kesulitan untuk tidur. Kesulitan tidur yang saya alami bukan hanya kesulitan untuk memulai tidur (inability to fall asleep / Einschlafstörung) namun juga ketidakmampuan untuk tidur nyenyak sepanjang malam (inability to stay asleep / Durchschlafstörung). Kekurangan tidur ini menyebabkan saya susah bangun pagi dan mulai bekerja.
  • Kesulitan berkonsentrasi, pikiran saya selalu bercabang. Saya memaksakan diri untuk selalu harus bisa multi tasking yang akhibatnya malah kebanyakan hal gak terselesaikan dengan sempurna.
  • Kesulitan untuk merasa senang atau puas. Apapun yang saya alami, saya gak bisa menikmatinya dengan baik. Saya jadi orang yang kurang bersyukur. Perasaan senang yang saya alami hanya berlangsung sebentar, karena otak saya langsung beralih ke „masalah“ berikutnya.
  • Kesulitan untuk menikmati momen – momen dalam hidup.  Semua hal terasa susah dan semua hal dijadikan masalah.
  • Kepercayaan diri saya semakin memudar.. Saya merasa gak mampu untuk menyelesaikan segala masalah, walaupun mungkin itu sebenarnya cuma masalah kecil.
  • Negative thinking.. Saya jadi orang yang sangat pesimistis walaupun sebelumnya saya adalah orang yang positif dan optimistis.
  • Selalu menyalahkan diri sendiri dan merasa diri sendiri selalu kurang baik.
  • Saya malas bersosialisasi, malas ketemu teman – teman. Saya menjadi orang yang sangat penyendiri, walaupun sebelumnya saya orang yang cukup senang bersosialisasi. Pada satu sisi saya malas bertemu orang lain karena fisik saya yang sudah sangat lelah. Di sisi lain karena saya merasa kehabisan cerita. Saya jadi malas ngobrol karena saya merasa „my life is so boring“.
  • Saya tidak memiliki motivasi untuk beraktivitas bahkan untuk melakukan hobi saya seperti belajar bahasa asing, salsa atau merajut apalagi untuk hobi berolahraga seperti berenang atau sekedar jogging. Saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu luang dengan tidur.

Benar – benar masa itu masa yang gak nyaman.. dan proses ini berlangsung pelan – pelan (mungkin sekitar 6 – 8 bulan). Sampai pada akhirnya semua terakumulasi dan tubuh saya gak bisa lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Bagaimana prosedur untuk mendapatkan psikoterapi di Jerman?

Di Bagian ini saya ingin share sedikit mengenai prsedur konsultasi dan pemeriksaan yang berlaku di Jerman. Idealnya semua orang yang tinggal di Jerman punya dokter kepercayaan yang bisa dihubungi kalau ada masalah kesehatan. Dokter kepercayaan ini biasanya seorang Hausarzt / family doctor. Kebanyakan dokter kepercayaan ini adalah dokter spesialis kedokteran umum (Allgemeinmedizin) atau dokter spesialis penyakit dalam (Internist). Seorang Hausarzt bisa melakukan terapi atau mengkoordinasi pemeriksaan dan terapi (dengan menghubungkan atau merujuk pasien ke dokter – dokter spesialis atau psikiater/psikolog) sesuai kebutuhan / kondisi pasien.

Tapi gak menutup kemungkinan orang juga dapat langsung menghubungi dokter spesialis tanpa melalui Hausarzt tersebut tergantung dari keluhan yang dialami. Bedanya jika langsung menghubungi dokter spesialis maka kadang kita harus menunggu (bisa sampai berbulan-bulan) untuk mendapatkan jadwal konsultasi dan pemeriksaan di dokter spesialis tersebut. Dengan melalui praktek Hausarzt, proses menunggu ini kadang bisa dihindari. Karena mungkin penyakitnya bisa ditangani langsung oleh Hausarzt atau Hausarzt bisa mengkoordinasi terapi dan pemeriksaan langsung dengan dokter spesialis yang dibutuhkan.

Pada kasus saya, awalnya saya memang berkonsultasi dengan Hausarzt saya. Untuk mendapat penanganan yang cepat saya berpikir untuk langsung menghubungi dokter spesialis dan beruntungnya saya punya beberapa koneksi dengan beberapa dokter spesialis, sehingga saya bisa langsung berkonsultasi dengan dokter-dokter spesialis tersebut.   

Setelah kurang lebih 3 minggu menjalani terapi untuk kondisi fisik yang saya alami, ternyata saya gak merasa lebih baik. Saya masih merasa lelah dan „sakit“ bahkan rasa lelah yang saya rasakan lebih hebat dari sebelumnya. Saya belum merasa mampu untuk kembali bekerja.

Karena cuti sakit selama 3 minggu, kebayang dong pekerjaan yang udah menumpuk selama saya tinggal. Saya ingat banget pencetusnya.. Waktu itu saya buka inbox email pekerjaan dan melihat ada lebih dari 300 emails yang sudah „menanti“..  Saat itu saya langsung drop dan gak merasa bisa bangun lagi.

I had the worst anxiety attack that I had ever had. Finally I just curled down on the floor and felt incapable of doing anything at all.

Saya sudah semakin merasa gak mampu dan saat itu cuma ada satu hal yang ada di pikiran saya. Saya harus segera cari bantuan profesional, baik itu ke seorang psikiater, psikolog ataupun psikoterapis. Sekedar bed rest saja tidak bisa lagi membantu saya. Di saat akut seperti itu keluarga dan teman-teman terdekat pun tidak dapat membantu saya lagi. Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk menghubungi beberapa praktek psikolog.

Di saat fase akut seperti ini yang paling penting adalah memastikan ada tidaknya pikiran untuk mengakhiri hidup. „Apakah kalian punya suicidal thoughts (Selbstmordgedanken / Lebensmüde Gedanken)?Jika sudah sampai terbersit pikiran untuk bunuh diri, kalian harus langsung menghubungi orang terdekat (keluarga atau teman dekat) dan minta mereka untuk menemani kalian pergi ke rumah sakit, khususnya ke bagian psikiatri. Jika tidak ada keluarga / teman yang bisa dihubungi, hubungi praktek dokter atau instalasi gawat darurat ataupun langsung menghubungi nomor pusat 112 (berlaku di seluruh EU). Situasi seperti ini harus segera ditangani dengan cepat, karena artinya kondisi jiwa sudah sangat lemah dan dapat membahayakan nyawa. 

Kembali lagi ke situasi saya saat itu, bersyukurnya saya gak pernah punya suicidal thoughts. Karena itu, saya berpikir cukup untuk berkonsultasi dengan psikolog / psikiater dalam waktu dekat (hitungan hari). Saya menelpon beberapa psikolog dan menjelaskan kondisi saya waktu itu. Beruntungnya saya bisa dapat appointment dalam 3 hari ke depan untuk berkenalan dengan dua psikolog. Ada kalanya dan (sayangnya) gak jarang orang gak seberuntung saya untuk dapat appointment dalam waktu dekat, karena semua praktek psikolog sudah penuh dan gak bisa terima pasien baru. Jika memang kondisinya seperti itu, khususnya di provinsi Bayern, alternatif lain yang dapat dilakukan adalah dengan menghubungi nomor khusus koordinasi pusat. Tempat koordinasi ini bisa membantu kita untuk menemukan psikolog/psikiater yang masih punya kapasitas untuk menangani pasien dalam waktu dekat. Untuk informasi lebih lanjut bisa di klik di sini: https://www.kvb.de/service/patienten/koordinationsstelle-psychotherapie/.

Di Jerman orang punya kesempatan untuk berkenalan dengan seorang psikolog / psikoterapis selama 6 kali (di mana masing – masing pertemuan berlangsung selama 25 menit). Di kesempatan itu kita bisa memutuskan apakah psikolog ini cocok dengan kita atau gak. Di sini lain, psikolog/psikoterapis juga akan memutuskan di pertemuan-pertemuan pertama, apakah kondisi kita harus diterapi dan kalau harus diterapi, bentuk terapi apa yang akan diterapkan.

Terapi yang diterapkan oleh Psikolog/Psikoterapis harus diawali dengan pemeriksaan fisik oleh Hausarzt. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa gak ada penyebab lain (Contohnya: gangguan kelenjar tiroid (Schilddrüsenfunktionsstörung) bisa menyebabkan depresi).  Selain itu, Hausarzt juga perlu mendampingi selama terapi dijalankan.  Setelah penyebab-penyebab fisik sudah dapat disingkirkan oleh Hausarzt, Hausarzt akan membuat surat rujukan/Überweisung ke psikolog/psikoterapis. Seringnya di masa – masa awal terapi, pasien akan membutuhkan ijin cuti sakit (Attest / Krankschreibung). Surat sakit ini bisa pasien dapatkan dari Hausarzt.

Kalau di waktu konsultasi perkenalan kita sudah merasa cocok dengan psikolog/psikoterapis dan mereka juga melihat adanya indikasi untuk terapi, mereka akan membuat Antrag / aplikasi permohonan ke asuransi supaya biaya terapi ditanggung total oleh asuransi.

Note: semua proses terapi baik di Hausarzt atau di praktek psikolog/psikoterapi akan ditanggung oleh asuransi.

Paska Terapi dan Kembali Bekerja

Jika proses terapi berjalan dengan baik dan kita juga sudah merasa siap untuk kembali ke real life, ada baiknya kita menghubungi dokter perusahaan (Betriebsarzt) yang bisa mendampingi proses kembali kerja kita. Kalau diperlukan, Betriebsarzt dan Hausarzt akan saling berkoordinasi sehingga situasinya lebih jelas.

Di Jerman semua pekerja selama masa sakit berhak mendapat gaji dengan jumlah yang seperti sebelumnya jika masa sakit berlangsung selama maksimal 6 minggu. Gaji ini dibayarkan oleh perusahaan/kantor tempat bekerja. Jika absen sakit lebih dari 6 minggu, perusahaan tidak lagi memilki kewajiban untuk membayar gaji. Pada masa ini, gaji akan dibayarkan oleh asuransi kesehatan dan di Jerman dikenal dengan istilah Krankengeld.

Juga sudah diatur di buku hukum sosial (Soziales Gesetzbuch SGB IX) kalau semua pekerja yang sakit lebih dari 6 minggu dalam setahun berhak menerima penawaran reintegrasi pekerjaan / betriebliche Wiedereingliederung. Idealnya proses ini didampingi oleh Betriebsarzt, supaya proses reintegrasi di pekerjaan bisa berlangsung dengan lancar.

Misalnya ada proses yang disebut „stufenweise Wiedereingliederung“. Dalam proses ini, pekerja yang sudah absen lebih dari 6 minggu bisa memulai pekerjaannya dengan bertahap (misalnya dimulai dengan bekerja selama 1 jam per hari di minggu pertama, 2 jam per hari di minggu kedua, dst. sampai jam kerja awal bisa tercapai lagi). Hingga proses Wiedereingliederung ini selesai, pekerja gak menerima gaji dari perusahaannya, melainkan dari asuransi berupa Krankengeld. Dengan adanya proses ini, pekerja yang sakit bisa berkonsentrasi dengan proses penyembuhan dan reintegrasinya di tempat kerja tanpa perusahaan harus „rugi“ membayar gajinya.

Di dunia pekerjaan modern saat ini semakin banyak kasus „burn out“. Dengan adanya „burn out“ perusahaan mengalami kerugian yang banyak terutama jika sang pekerja jatuh sakit dalam waktu yang tidak sebentar (beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan). Hal inilah yang menginisiasi semakin banyak perusahaan untuk berdiskusi dengan pekerja yang bersangkutan untuk dapat mengubah kondisi kerja yang lebih baik untuk menghasilkan tenaga kerja yang sehat dan lebih produktif.

Pada kasus saya, saya sendiri juga melakukan proses „stufenweise Wiedereingliederung“ di tempat saya bekerja. Setelah menjalani terapi rawat jalan (Gesprächstherapie, seminggu sekali) di psikolog selama kurang lebih 1 bulan, saya menghubungi atasan saya, Betriebsarzt (dokter perusahaan) dan juga perwakilan dari working council (Betriebsrat). Bersama dengan ketiga orang ini, saya mengutarakan berbagai faktor pengganggu yang menyebabkan saya jatuh sakit dan juga bagaimana saya dapat mengubah situasi pekerjaan saya dengan dukungan mereka. Saya bersyukur, atasan saya sangat mendukung kembalinya saya ke tempat kerja dengan mengupayakan untuk memenuhi hal yang saya butuhkan agar saya dapat bekerja lebih baik lagi ke depannya dan tentunya supaya saya gak jatuh sakit lagi.

Proses penyembuhan gak berhenti dengan selesainya masa terapi di psikolog / psikoterapis. Tentu saja proses kesembuhan seseorang juga sangat tergantung dari lingkungan sekelilingnya. Keberadaan keluarga dan teman – teman yang suportif merupakan hal yang sangat penting terutama untuk kelanjutan stabilisasi kesehatan mental. Menjadi perantau yang biasanya jauh dari keluarga „memaksa“ kita untuk mencari teman – teman seperjuangan yang sehati. Teman – teman inilah yang menjadi keluarga „pengganti“ kita di negara perantauan.

Untuk saya pribadi, kepercayaan terhadap Tuhan juga merupakan sesuatu yang sangat esensial. Di sela – sela kesibukan dan hebohnya kehidupan  sehari – hari, kadang kita jadi lupa sesuatu yang sebenarnya sangat esensial untuk diri kita sendiri..

Alternatif lainnya yang juga dapat dipikirkan dalam menjalani proses penyembuhan dari kondisi “burn out” adalah dengan mengikuti self-help group (Selbsthilfegruppe). Di grup ini kita dapat bertukar pikiran dengan sesama yang pernah mengalami „burn out“, sehingga kita merasa bahwa kondisi ini tidak hanya dialami oleh diri sendiri. Informasi lebih lanjut (untuk daerah Bayern) bisa dilihat di sini https://www.kvb.de/service/patienten/selbsthilfe/selbsthilfestruktur-bayern/?noMobile=true.

Saya sendiri belum pernah ikut kegiatan Selbsthilfegruppe. Setelah saya berani „jujur“ bahwa saya pernah mengalami „burn out“, banyak teman – teman dan terutama kolega – kolega sesama dokter yang menghubungi saya dan bercerita tentang pengalaman mereka sendiri saat mengalami „burn out“. 

Hal terpenting yang saya petik dari pengalaman ini:

Untuk bisa sembuh, saya harus belajar untuk menerima dulu kondisi saya yang lelah. Dengan kita bisa menerima kelelahan dan kelemahan diri sendiri, kita baru bisa belajar untuk menyiasati bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah dan memperbaiki diri sendiri.

Intinya sih.. menerima, bersyukur dan terus belajar.. 

Akhirnya tiba juga saya di ujung postingan kali ini. Walaupun panjang bangeet, semoga postingan ini bisa bermanfaat.. 🙂

Love,

Andina

P.S. Di link ini teman – teman bisa baca lebih lanjut tentang „burn out“.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0072470/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: